Kembali ke Arsip BeritaUmum
14 Agustus 2026
Admin CAKRA
11 kali dibaca

SERUM POLINASI: Inovasi Efisien untuk Meningkatkan Fruit Set Melon Golden Langkawi di UPT PATPH Lebo

SERUM POLINASI: Inovasi Efisien untuk Meningkatkan Fruit Set Melon Golden Langkawi di UPT PATPH Lebo
Perbesar Foto
Dokumentasi Tambahan (2)
Dokumentasi 2
Dokumentasi 3

SIDOARJO — Ketepatan teknis pada fase generatif menjadi kunci utama dalam budidaya melon (Cucumis melo L.) varietas Golden Langkawi. Keberhasilan pembuahan (fruit set), keseragaman panen, hingga tingkat produktivitas akhir sangat ditentukan oleh efektivitas proses polinasi.


Merespons tantangan tersebut, UPT Pengembangan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (PATPH) Lebo, Sidoarjo, di bawah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, melakukan studi komparatif bersama mahasiswa magang dari Politeknik Negeri Jember (Polije). Kolaborasi vokasi ini bertujuan menguji efisiensi dua metode polinasi di greenhouse, yaitu polinasi alami secara manual dan penggunaan serum polinasi.


Mengenal Serum Polinasi dan Cara Kerja Lapangan

Serum polinasi merupakan formulasi cairan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang menggabungkan hormon auksin dan giberelin untuk merangsang pembentukan buah partenokarpi atau tanpa pembuahan biji. Pengaplikasiannya dilakukan secara langsung dengan menyemprot atau mencelupkan kuntum bunga betina beserta bakal buahnya pada pagi hari saat bunga mekar. Metode ini meniadakan kebutuhan pemindahan serbuk sari dari bunga jantan secara manual, sehingga secara signifikan mampu memangkas waktu kerja petugas di lapangan.


Efisiensi Waktu Kerja dan Peningkatan Fruit Set

Hasil pengamatan lapangan di greenhouse UPT PATPH Lebo mencatatkan keunggulan nyata dari penerapan serum polinasi. Dari segi kecepatan kerja, aplikasi serum hanya membutuhkan waktu rata-rata 8,22 detik per bunga, jauh lebih singkat dibandingkan metode alami yang memerlukan waktu hingga 24,87 detik per bunga. Dengan demikian, efisiensi waktu kerja yang dicapai berkisar hingga 66,94%. Secara keseluruhan, seluruh proses polinasi menggunakan serum dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 2 jam, sementara metode manual membutuhkan waktu lebih dari 3 jam pada kondisi kerja yang sama.


Keunggulan ini juga berbanding lurus dengan tingkat keberhasilan pembentukan buah (fruit set). Penggunaan serum polinasi mencatatkan tingkat keberhasilan hingga 97,72%, atau lebih tinggi 19,42% dibandingkan metode alami yang berada di angka 78,30%. Selain itu, pada perlakuan serum tidak ditemukan kasus kegagalan polinasi, sedangkan pada metode alami masih ditemui bunga yang gagal terpolinasi maupun buah yang menguning.


Dampak Positif pada Manajemen Operasional Kebun

Kecepatan dan kepastian hasil dari serum polinasi membawa dampak positif pada seluruh alur pemeliharaan tanaman. Waktu kerja yang lebih singkat memberikan ruang bagi tim kebun untuk menjaga ketepatan jadwal pemeliharaan rutin lainnya, seperti perambatan tali dan pemangkasan (pewiwilan). Hal ini penting untuk mencegah timbulnya sulur air yang mengganggu atau risiko patahnya ujung tanaman akibat terlambat dirapikan.


Dari sisi operasional dan pembiayaan, efisiensi waktu kerja ini secara langsung mampu menekan alokasi biaya tenaga kerja (Hari Orang Kerja/HOK) pada volume pekerjaan yang sama. Produktivitas kerja di lapangan pun meningkat pesat. Di samping itu, buah yang terbentuk melalui serum polinasi tumbuh lebih serempak. Kondisi ini memudahkan petugas saat melakukan penyeleksian buah, pengaturan beban tanaman, hingga penentuan estimasi jadwal panen. Data pengamatan juga menunjukkan bahwa tanaman dengan perlakuan serum memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mampu mempertahankan dua buah berkualitas hingga masa panen pada umur 65–70 hari setelah tanam.


Rekomendasi dan Sinergi Pembelajaran Vokasi

Berdasarkan hasil studi komparatif tersebut, penggunaan serum polinasi sangat direkomendasikan sebagai solusi teknologi terapan untuk meningkatkan efisiensi dan stabilitas hasil panen melon Golden Langkawi, khususnya di lingkungan greenhouse dengan keterbatasan tenaga kerja. Meski demikian, keberhasilannya tetap perlu ditopang oleh kedisiplinan pemeliharaan, kecukupan cahaya, serta pengendalian hama dan penyakit tanaman.


Sinergi antara UPT PATPH Lebo dan mahasiswa Politeknik Negeri Jember ini menegaskan pentingnya peran pembelajaran vokasi dalam melahirkan praktik budidaya berbasis data. Melalui pendekatan terukur, inovasi sederhana seperti serum polinasi dapat menjadi langkah nyata menuju pengelolaan agribisnis hortikultura yang lebih efektif, efisien, dan modern.


Penulis: Taufiq Mansur, S.TP, MM

Jabatan: Kepala Seksi Produksi, UPT PATPH Lebo – Sidoarjo


Publikasi Resmi UPT PATPH Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim
Bagikan via WhatsApp